(Cerpen) Hari Terakhir Chyanoever

“Allahu akbar….Allahu akbar….”. Pagi ini, 23 maret 2010 aku dibangunkan dengan lantunan adzan yang begitu indah, yang merasuk pikiranku. Suara adzan subuh itu seakan-akan menyuruhku untuk bangun dari tidurku yang lelap di atas kasur kuningku dan bantal hijauku yang empuk. Dan aku mulai menapakkan langkahku satu demi satu menuju musala, tempat aku dan kawan-kawan mengadu dan memohon ampun kepada Yang Mahakuasa.
“Silahkan kembali ke asrama” sahut guruku setelah memberi pencerahan jiwa kepada kami. Guru yang kebetulan memandu kami dalam salat tadi. Kamipun beranjak dari musalah, bersiap-siap untuk mandi. Disaat sedang berjalan aku merasa ada yang berbeda pada subuh kali ini yang tak seperti subuh-subuh sebelumnya, subuh-subuh yang membuatku malas untuk bertemu dengan sang mentari, namun kali ini aku merasa sangat bahagia walaupun hatiku masih diselimuti dengan kesedihan akibat kekalahan di pertandingan kemarin. Tapi aku tak tahu kenapa? Mungkin Ini semua berkat dia, dia yang senantiasa memberiku semangat dan memberi warna-warni dalam hidupku. Dan dialah Lunhy seorang wanita yang telah membuatku jatuh cinta.
Sehabisku memanjakan tubuhku yang kurus dan juga kotor akibat debu-debu yang melekat , aku segera memberi sedikit suplai energi ke dalam perutku yang mulai semalam sudah mengeluh. Saat makanan masih di dalam mulutku, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari Ipul yang begitu keras bagai aungan macan memasuki gendang telingaku “Ade’ cepat ko, bertugaski ini hari di kelas” katanya. Langsung saja kutopang ranselku yang berat akibat buku-buku tebal di dalamnya sehingga membuat tinggi badanku konstan. Namun semua itu tidak membuatku lelah untuk terus berlari menuju gerbang tempat Pak Ancu menanti kedatangan calon-calon ilmuwan yang kurang disiplin untuk diberi sedikit hadiah sebelum masuk ke dalam kelas. “Hosh…hosh… terlambatka pak?” Tanyaku dengan nafas yang tidak teratur. “Belumpi, masih ada sepuluh menit” jawab pak ancu seorang guru matematika sekaligus orang tua kami di asrama. Setiba di kelas kulihat ipul berdiri dengan sapu biru yang melekat di tangannya menantikan kedatangan teman piketnya, terutama Adul yang menjadi presiden di kelasku yang kebetulan juga piket pada hari ini. “Shalat…shalat…shalat…” teriak teman-temanku memanggil kami untuk shlat duha yang sudah menjadi rutinitas kami sehari-hari. Akupun mengambil air wudhu dan segera kulaksanakan shalat duha.
“Adakikah pak Hajir?” tanyaku pada Adul. “Tenapi kucinikiro pak hajir, ” jawabnya dengan bahasa planet. Dari kejauhan kumelihat seorang gadis masuk ke dalam kelasku, karena penasaran akhirnya kupercepat langkahku meninggalkan Adul yang masih berdiri di depan musalah. Ternyata gadis itu adalah Muthy, salah satu temanku yang duduk di kelas X. BJ. Habibie. “We’ anak basket nanti sore sudahnya ashar bertandingki lawan immim” katanya memberi pengumuman di kelasku. Sejenak aku teringat pada Lunhy yang kini berada di kejauhan sana untuk mengikuti salah satu kegiatan ekskul yakni PMR. Dia juga merupakan salah satu pemain basket putri di sekolahku.
“Gina datangkikah juga bertanding anak PMRnya?” tanyaku mengganggu saat Gina sedang asyik bercanda dengan Abdush. “Kayaknya datangji, karena ndak cukupki itu kalau ndak ada anak PMRnya, ku tauji Ade pasti mau ko ketemu sama..., hahahaha” jawabnya seolah ingin melihatku tersenyum. “sotta, kita mau jeki bertanya” Sanggahku padanya. Akupun kembali menyandarkan kepalaku di atas meja sambil menunggu kedatangan guru. Detik jam terus berputar, guru yang aku tunggu belum juga kunjung datang, akhirnya kuambil secarik kertas yang berada di hadapanku. Kugambari diriku sendiri pada kertas tersebut. “hahaha” tawaku melihat gambar yang kubuat, melihatku tertawa sendiri membuat orang-orang di sekitarku menjadi heran seakan-akan mereka melihatku seperti orang yang baru keluar dari RSJ Dadi.
“Kring…kring….” Terdengar suara bel yang begitu keras menyadarkanku dari khayalan yang konyol. “Ade pergi jajan” ajak Ipul sambil menarik tanganku. “Ayomi pale’, tapi kuambilki dulu uangku di asrama na’” jawabku padanya. Ketika tiba di asrama kulihat ada pesan di layar HPku “kk mwK nnt pgi k skul”. Dan pesan itu berasal dari Lunhy yang dari tadi mengganggu pikiranku. Sambil tersenyum kuberlari kearah ipul. Kini Ipul heran melihatku “Kenapako? Tersenyum-senyum sendiri?” tanyanya, “tidak ji” jawabku dengan enteng. “Ayomi pergi jajan” ajakku.
“Ya’ jadi jika harga naik, maka permintaan akan turun….” jelas guru ekonomiku. Namun di dalam kelas pikiranku pergi entah kemana, aku tidak bisa memusatkan konsentrasiku, badanku terbujur kaku bersandar pada meja. Guruku terus berbicara tanpa kutahu apa yang ia maksud hingga bel istrahat akan berbunyi. “Kriiing…Kriiiiing” akhirnya waktu yang kunanti-nanti datang juga. Segera kubasuh wajahku dan bersiap-siap menuju musalah untuk melaksanakan shalat duhur. Setelah melaksanakan shalat duhur segera kuberlari menuju asrama dengan harapan menerima pesan baru dari Lunhy, ternyata harapanku tidak sesuai dengan apa yang kuinginkan, aku tidak menerima pesan apa-apa darinya. Dengan wajah yang kusut kumasuk ke dalam kelas. Namun sekarang semangatku untuk belajar kini berkobar kembali.
Tak terasa bel pulang berbunyi. Kulangkahkan kaki menuju asrama, kembali kuambil hpku yang sementara mengisi. Kini Lunhy kembali mengabariku “kk ad meK d asrama…ap qt bkind???” setelah membacanya, senyumku mulai berkembang di wajahku yang begitu kusut. Akhirnya aku menghubunginya, kamipun saling bicara hingga akhirnya kuputuskan teleponku karena aku menjadi kesal dibuatnya. Tanpa sadar aku tertidur lelap di atas kasur kuningku.
Suara adzan kembali membangunkanku dari tidur. Setelah kulaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim, kuambil bola yang berada di bawah ranjang dan kuajak anak-anak asrama untuk bermain. Ketika sedang bermain kulihat segerombolan wanita berpakaian basket biru menuju lapangan, yang tak lain dan tak bukan adalah teman satu sekolahku. Lunhy berada diantara mereka, kini kekesalanku makin berkobar setelah melihat Lunhy. “We’ pergiki liatki anak putrinya bertanding lawan immim!!!” ajak Wawan menghentikan pertandingan. Kamipun berjalan menuju lapangan, semua orang terlihat senang kecuali Lunhy dan aku tak tahu kenapa. Sorak penonton membuat kedua tim makin bersemangat. Tibalah waktu Lunhy memasuki lapangan, dan saat itu juga abdush memanggiku “Ade’ ayo pulang, nanti terlambatki shalat magrib”. “Liatmi dulu sebentar anak putrinya main” jawabku, namun Abdush tetap berjalan meninggalkanku. Akupun menyusulnya namun ketika di perjalanan, entah mengapa yang ada di pikiranku hanyalah putus, putus, dan putus. Mungkin karena aku jengkel dengannya. Sesampainya di asrama kuambil hpku dan kukirim pesan pada Lunhy untuk mengakhiri kisah Chayanoever.
“Ddet sory naph…
Kyakx nd bz pha trimaq buka jilbab,
Ju2r masih seringK emosi klo lyatq buka jilbab
Mungkin msi byak jii co laen y mw trimaq bgitu,
Dan lebih baek drpd z…
Sory sekali lg naph…
Kan msi bz jii berteman ato bersahabat”
Pesan terakhirku menutupi kisah Chayanoever…

S E K I A N

(Cerpen) Hari Yang Sial

Pagi ini aku terlambat bangun, sehingga membuatku melaksanakan salat subuh jam 06.15 pagi. Jam telah manunjukkan pukul 07.00 aku belum selesai sarapan, padahal hari ini adalah hari senin dan semua siswa harus mengikuti upacara bendera. Setelah semuanya siap aku lalu berangkat diantar oleh ayahku tetapi jam telah menunjukkan pukul 07.10 padahal jarak rumahku ke sekolah cukup jauh, butuh 10 menit paling cepat agar dapat sampai tetapi entah mengapa ayahku langsung berhenti di tengah jalan, ternyata ban motornya bocor, membuat perjalananku ke sekolah menjadi lebih lambat, tanpa fikir panjang aku langsung pamit dan menahan mobil mikorolet agar dapat memperkecil keterlambatanku.
SesAmpaiku di sekolah aku melihat sang merah putih telah berkibar, itu artinya bahwa aku sudah sangat terlambat. Untung saja ada yang menemaniku menerima hukuman, ditambah lagi aku yang tidak memakai topi. Setelah upacara selesai kami semua yang terlambat lalu dipanggil untuk menghadap dan diadili, kami lalu dihukum untuk membersihkan WC yang sangat kotor dan dianggap angker oleh teman-teman.
Hati kecilku lalu berkata “semua hal sial yang kualami hari ini cukup sampai disini, padahal aku tidak pernah terlambat seperti ini”. Setelah hukuman kami selesai, kami lalu kembali ke kelas dan siap untuk belajar. Tetapi entah mengapa kasialanku terus berlanjut, buku PR yang seharusnya dikumpul hari ini aku lupa untuk memasukkannya ke dalam tas, tetapi guruku yang satu ini tidak mau menerima alasan apapun, dia lalu berkata dengan penuh kemarahan
“saya tidak mau menerima alasan, cepat keluar dan berdiri di depan kelas”
Padahal aku yang dikenal rajin di kelas IX.1 ini jarang sekali mendapat hukuman seperti ini.
Bel istirahatpun berbunyi, aku dapat lebih tenang karena hukumanku telah selesai. Teman-temanku lalu memanggilku bermain sepak bola, tetapi kesialan masih ada padaku, setelah beberapa saat setelah kick-off aku langsung terjatuh karena di senggol oleh teman, seragamku lalu kotor dan kakiku terluka. Entah mengapa di hari itu sangat lain rasanya dibandingkan hari-hari yang kulalui sebelumnya. Karena aku jatuh dan seragamkunsangat kotor mengakibatkan aku tidaj nyaman lagi mangikuti pelajaran selanjutnya.
Bel pulangpun berbunyi, aku berkata kepada temanku yang selalu menemaniku pulang bersama yaitu Firman “ man mudah-mudahan kesilalanku cukup hanya di sekolah”…..”tetttttttt” entah mengapa perkataanku dipotong oleh suara kelakson mobil yang ada dibelakang kami aku lalu melanjutkan perkataanku kepada Firman dan bertanya “jadiji sebentar mujemputka’ toh?” firman lalu menjawab “insyaAllah”.
Sore hariya Firman lalu menjemputku untuk pergi ke JICL tempat bimbingan belajar kami, tetapi sialnya lagi aku bersama Firman karena terlambat, pelajaran telah di mulai untung saja kakak Pembina atau biasa disebut dengan tentor, baik hati dan langsung saja menyuruh kami berdua duduk.
Sepulang dari tempat bimbingan, kami berdua lalu pergi ke Warnet dekat sekolah untuk mengejakan tugas yang diberikan oleh guru kami. Di warnet telah ada ridawan dan jaffar yang telah lam mencari tugas juga, tetapi mereka berdua minta diantar pulang kepada Firman, tetapi Firman menyuruhku mengantar mereka berdua, kamipun terpaksa bonceng 3. Setelah mereka berdua sampai di tujuan denganku aku lalu kembali memutar motor Firman yang kupakai tersebut, entah mengapa aku uleng dan hampir menabrak orang yang sedang memperbaiki mobil truknya. Untung saja aku dapat menghindar, tetapi setelah menghindari orang tersebut aku lalu jatuh, dan untungnya lagi aku daot dimaafkan oleh orang yang hamper kutabrak tadi dan kerusakan motor Firman tidak terlalu parah. Akupun pulang kembali ke Warnet dan meminta maaf kepada Firman karena telah menjatuhkan motornya.
Aku berfikir, dari semua kesialan yang kualami hari ini mulai dari rumah sampai pulang kembali, mungkin inilah sejarah kesialan terbanyak dan terparah yang pernah kualami. Dan aku nerharap kejadian yang begini tidak akan terulang kembali.
***Selesai***

(Cerpen) Agen F.B.I

Malam itu tepat pukul 22.00 WITA. Bulan masih saja memancarkan sinarnya yang begitu indah. Terdengar suara gonggongan anjing dari kejauhan yang diselingi oleh lantunan nada-nada harmonis sang jangkrik dari balik semak yang ada di halaman rumahku. Setelah aku menonton film yang berjudul “FBI” yang mengisahkan tentang seseorang yang berprofesi sebagai polisi rahasia dunia, kulangkahkan kakiku menuju ke kamar tidur yang berada tak jauh dariku saat itu. Tubuhku langsung kurebahkan di atas ranjang kesayanganku. Sejenak terlintas di benakku, seandainya saja aku dapat menjadi salah satu dari Agen Rahasia FBI(Federal Bureau of Investigation) itu. Namun berselang beberapa menit, khayalan tingkat tinggi itu mengantarkanku ke dalam tidur hingga fikiran itu berkembang menjadi sebuah imajinasiku di dalam mimpi. Di alam mimpi, aku berperan sebagai salah satu agen FBI yang tinggal di Singapore. Aku tinggal bersama dengan seorang wanita muda berkebangsaan Singapore, berumur 20 tahun yang biasa kupanggil Ely. Ya, ia adalah istriku yang aku nikahi setelah berpacaran selama 2 tahun dan telah menikah denganku beberapa bulan yang lalu. Ia adalah sosok wanita yang diidam-idamkan oleh kebanyakan pria. Kulitnya putih, tubuhnya ideal, berpendirian kuat, sopan dan sangat mengerti akan jalan fikiranku.
Profesiku sebagai agen FBI hanya diketahui olehku saja dan oleh agen FBI lainnya. Nama resmiku di dalam organisasi adalah Whezard Lavoiser, sedangkan di kehidupan sehari-hariku aku biasa dipanggil Mike yang berprofesi sebagai penjual tanaman hias di Singaore. Istriku juga memanggilku dengan nama itu. Sampai sekarang ia tidak tahu bahwa aku adalah seorang agen rahasia. Aku sengaja merahasiakan profesiku itu agar kehidupan kami tidak terganggu dan demi keselamatan istriku tercinta Ely.
Suatu ketika aku memperoleh sebuah misi dari atasanku yang harus kuselesaikan sendiri di London. Lalu…
“Ely, untuk beberapa saat ini aku harus pergi lagi. Aku ingin kamu dapat mengerti itu” kataku dengan nada yang meyakinkan. “Tapi kamu mau kemana?”Tanya Ely. “Aku harus pergi ke London untuk mencari bibit bunga langkah itu” jawabku yang sengaja berbohong kepadanya. “Bunga yang mana? Bukankah bunga-bunga kita masih terlalu banyak untuk kita jual. Aku tidak sanggup bila harus kamu tinggalkan lagi. Aku tidak mau kesepian dalam kesendirian untuk kesekian kalinya” kata Ely sambil mengeluarkan air mata kesedihannya. “Maafkan aku Ely, itu demi kelangsungan hidup kita juga. Aku tak mungkin meninggalkanmu jika ini tak menyangkut kehidupan kita. Tolong, mengertilah! Aku pasti akan segera kembali. Aku berjanji, please” aku meyakinkan. “Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Aku takut sendiri di sini” kata Ely lagi. “Baiklah sayang, aku takkan lama meninggalkanmu karena aku mencintaimu” ucapku sambil memeluk dan menghapus air mata yang membasahi wajah istri tercintaku itu.
Keesokan harinya, sebelum berangkat kukecup dahi istriku lalu kupeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang. “I love you. Aku akan segera kembali. Tunggulah aku di sini”. Itulah kata-kata terakhir yang aku ucapkan padanya di Bandar Udara Internasional Changi Singapore sebelum aku berangkat ke London. “Jaga kesehatanmu di sana. Jangan tidur terlalu larut. Aku akan merindukan kedatanganmu di sini dengan penuh kesabaran” nasihat sekaligus harapan Ely padaku dengan mata yang berkaca-kaca saat itu. Kulihat arloji pemberian Ely yang kupasang di tangan kananku. Ternyata tibalah saatnya bagiku untuk meninggalkannya. “Baiklah, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik” kataku. “Hati-hatilah dan jangan lupa pesanku tadi” ujar istriku tercinta yang lagi-lagi meneteskan air mata. Sekali lagi kupeluk tubuhnya dan kuhapus air mata yang melunturkan kecantikan wanita muda pendamping hidupku itu. Setelah itu, kulangkahkan kakiku perlahan meninggalkannya.
Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Bandar Udara Heathrow, London. Di sana aku dijemput oleh seorang agen FBI sama sepertiku. Namanya John O’connor. Di dalam organisasi ia lebih senior dariku. Kata John, ia sengaja diutus oleh atasan kami untuk membantuku dalam menjalankan misi ini. Aku kira misiku ini hanya untukku saja, akan tetapi setalah mendengar penjelasan dari John, aku akhirnya mengerti. Aku kemudian diantar olehnya ke sebuah hotel di London. Hotel itu bernama The Montcalm Hotel Nikko. Di sana aku sekamar dengan John.
Tiga minggu telah aku lalui di London bersama John, akan tetapi informasi mengenai pengedar narkoba yang kami cari-cari itu masih sangat sedikit. Hari-hariku bersama John masih sama seperti hari sebelumnya. Telah banyak kejadian yang kami alami bersama sehingga kami sudah seperti saudara saja. Suatu saat, tanpa sengaja aku bercerita mengenai keluargaku kepada John. Semua mengenai keluargaku telah John ketahui. Mulai dari ayah, ibu bahkan istriku Ely. Aku sering curhat kepadanya. Aku juga sering meminta nasihat kepadanya.
Tiba pada suatu saat ketika aku berjalan-jalan sendiri di sebuah desa yang berada di pinggir kota London, aku melihat seorang lelaki muda yang mempunyai gerak-gerik mencurigakan. Kuikuti dia dari belakang. Sampai pada suatu tempat ia berhenti di sebuah gudang besar. Aku melihatnya sedang melakukan transaksi narkoba dengan sekelompok orang berjas. Mereka memakai senjata dan membawa beberapa koper yang berisi narkotika. Salah satu dari mereka memakai topeng. Aku terus mengintai mereka dari jauh. Setelah mereka bubar, kuikuti anak muda itu lagi. Anak muda itu ternyata melihatku dan berlari sekencang mungkin. Kukejar ia sekuat mungkin. Beberapa lorong dan semak-semak telah aku lewati. Akhirnya aku berhasil menangkapnya. Kuancam dia dengan pistolku agar mau mencerikan semua kejadian yang telah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Berselang beberapa saat, ia pun mengungkapkan semuanya.
Aku sangat kecewa dengan apa yang aku ketahui dari anak muda itu. Ternyata, pelaku utama(pria bertopeng) dari kasus ini adalah temanku sendiri. Ya, dia adalah John O’connor yang selama ini kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Setelah kejadian itu aku tak pernah lagi melihat John. Aku terus mencarinya. Kutanyai semua orang yang mengenalnya, akan tetapi tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Aku tidak putus asa. Kucari dan terus kucari dia. Akhirnya aku tahu keberadaan John sang pengedar itu. Ia sekarang berada di Singapore. Tepatnya di kota tempat aku tinggal bersama keluargaku.
Mengetahui hal itu, aku langsung bergegas menuju ke Singapore. Setiba di sana aku lebih dulu pergi ke rumahku. Kutekan bel rumah yang kurindukan itu. Terdengar suara wanita yang sangat aku rindukan. Ketika melihatku, ia langsung memelukku erat-erat. Aku juga membalas pelukan kasih sayangnya itu dengan pelukan yang terbakar api kerinduan yang membara dan bergejolak.
“Sayang, mengapa kamu tidak memberi tahuku kalau kamu mau pulang hari ini?” tanya Ely dengan mata yang berbinar-binar. “Aku sengaja tidak memberi tahumu. Aku ingin membuat surprise untukmu” jawabku. “Oh, iya. Di dalam ada seseorang pembeli bunga yang mengaku mengenalmu. Kami telah berbincang-bincang cukup lama. Lantas aku menyuruhnya masuk ke rumah dan menuangkannya secangkir kopi. Katanya ia pertama kali mengenalmu ketika di London. Ia juga menceritakan keadaanmu di sana” ujar Elyku sayang. “Owgh, begitu…ngomong-ngomong nama orang itu siapa?” tanyaku sambil berjalan masuk perlahan ke dalam rumah. “Katanya ia bernama John. John O’connor” jawabnya. “Ha….dimana ia sekarang?” tanyaku dengan nada yang was-was. “Ia berada di taman bunga” jawab Ely dengan nada terkejut. Aku berlari sambil mengeluarkan pistol dari dalam bajuku dan kuarahkan ke tubuh John. “John menyerahlah. Aku tahu siapa kau sebenarnya. Jadi jangan macam-macam. Aku tidak segan-segan untuk menembakmu” ancamku kepada John. John mula-mula mengangkat tangannya, akan tetapi dengan gerakan yang cepat John membalik keadaan. Kini aku yang diancam. Aku mencoba tuk melakukan perlawan. Kuayungkan pistolku kembali ke arah John, hingga terjadi aksi saling tembak-menembak jarak jauh antara aku dan John di taman bunga itu.
Terdengar suara Ely yang dikejutkan oleh suara tembak kami.
“Ely jangan kemari” teriakku. Ia tidak mendengarkan perkataanku itu. Ia tetap saja ingin ke sana. Setiba di sana, Ely melihatku akan ditembak oleh John. Ely berlari melindungiku ketika peluru John melesat ke arahku dan akhirnya yang terkena peluru adalah Ely. “Tidaaaaaaaaaak!!!!!!!” teriakku sambil berlari untuk merangkul tubuh Ely yang terkena peluru dari pistol John yang biadab itu. Setelah Ely berada di pelukku, sekali lagi kuayungkan pistolku dengan gerakan cepat ke arah John. Akhirnya peluru yang disertai kemarahan besarku itu berhasil mengenai jantung John, hingga ia tergeletak di tanah dengan berlumuran darah.
“Ely…Ely…tolong, bangunlah…”. Itulah kata yang terus kukatakan ketika membawa Ely ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit, Ely kemudian di masukkan ke ruang UGD. Kutunggu ia beberapa jam akan tetapi tak seorangpun dokter yang keluar. Aku bingung, apa yang mesti aku lakukan. Aku masih terus saja mondar-mandir, hingga pada suatu ketika aku terjatuh di depan ruang UGD itu. Lalu…
“Bruk”… itulah suara gaduh yang kudengar. Badanku terasa sakit. Kubuka kedua mataku dan kulihat sekelilingku. Ternyata aku telah tergeletak di lantai sebuah kamar yang terasa tak asing lagi bagiku. Di dalam hati aku bertanya-tanya “Dimana rumah sakitnya?”. Berselang beberapa saat, kudengar suara ayah yang memanggilku dan akhirnya aku yakin bahwa kejadian yang telah kualami hanya sebuah mimpi yang menyelingi tidurku.

(Cerpen) Tak Ada Yang Salah Dengan CINTA

Cha-cha seorang gadis remaja yang baru berumur 16 tahun dan sekarang duduk di bangku SMA kelas 3 terbangun dari tidurnya, dan melihat mentari pagi yang sedang tersenyum kepadanya. Dan seketika itupun dia ,menyadari dan merasakan hembusan angin pagi yang begitu sejuk di sudut jendela kamarnya yang tiba-tiba saja membawanya dalam sebuah keresahan yang membawanya untuk mencoba melewati setitik celah mencoba menelaah segala resah yang mulai gerah pada semua yang lagi tak terlihat indah yang membuatnya kembali berfikir bahwa haruskah dia menyerah pada keadaan sekarang ini, keadaan yang membuatnya tersiksa untuk tak lagi mencoba mengenang dan merelakan sesuatu yang pada kenyataannya telah pergi dan bukan untuk dimiliki lagi. Itulah gambaran dirinya saat ini, gambaran seseorang yang masih terjebak dalam kenangan masa lalu, gambaran seseorang yang kini baru menyadari perjalanan manusia yang begitu panjang yang membawanya kepada sebuah pertemuan dan perpisahan. Dimana hari yang lalu ia bertemu, dapat menikmati canda tawa, tangisan dan kebersamaan namun kenyataan hari ini yang seiring dengan berjalannya waktu hanya ada seseorang datang dan pergi. Pergi yang tidak diketahui pergi untuk kembali atau pergi untuk selamanya.
Itulah sekarang beban di hidup Cha-Cha, ia terus menanti sesuatu yang menjadi miliknya dulu kini dapat kembali, akan tetapi rasanya itu sesuatu yang mustahil. Cha-cha sebenarnya tidak sanggup menanggung beban pikirannya itu sendiri, makadari itu Cha-cha biasanya hanya melampiaskan kesedihannya itu dalam sebuah buku, buku usang yang telah tua dan berwarna biru.
Suatu hari ketika cha-cha sedang asyik-asyiknya duduk sendiri di belakang halaman sekolah tiba-tiba Sisil dan Mitha sahabatnya datang menghampirinya, dan lagi-lagi mereka mendapati sahabatnya dengan wajah yang murung sambil menulis di buku usangnya itu dan mendengar musik kesayangannya ‘’MASIH CINTA’’ by KOTAK.
Sisil pun berkata ‘’ Cha…kamu kok murung gitu sich, kamu masih ingat dia? ”, ‘’Iya,cha…benar apa yang dikatakan Sisil itu ?, sahut Mitha pula.’’ Tidak kok, aku hanya teringat kakakku yang sekarang lagi menuntut ilmu di Mesir, sudah lama kami tidak berjumpa, aku kangen banget ma dia’’ucap cha-cha mencoba menyembunyikan kesedihan dan kemurungannya. Mitha : ‘’ Cha..sampai kapan kamu mau membohongi dirimu sendiri, sampai kapan kamu mau menyembunyikan kesedihamu dari kami ??????”.
Sisil : ‘’ Cha..kami tahu perasaanmu sekarang kamu pasti sangat terbebani dengan perasaan yang tak bisa melupakan dia, laki-laki yang dulu selalu mewarnai hidupmu, laki-laki yang dulu membuat kau tertawa dan menangis , tapi itukan sudah menjadi keputusanmu dulu untuk melepaskannya.”
Cha-cha : “ Kalian ini semua kenapa sich, aku kan sudah berulang kali bilang aku tidak kenapa-kenapa memang sampai sekarang aku belum bisa melupakan dia tapi bukan berarti setiap kalian mendapati aku seprti ini kalian selalu berkesimpukan aku seolah-olah bersedih karena dia, dia dan dia.”
Mitha : “ Bukan itu maksud kami cha…kami cuman merasa tidak enak setiap kami sedang asyik-asyiknya bercanda tawa sementara kami melihatmu murung, kami merasa tidak berguna sebagai seorang sahabat.’’
Sisil : “ Kenapa sich, kamu tidak mau curhat dengan kami berdua siapa tahu kami bisa memberimu solusi, paling tidak bisa mengurangi bebanmu, ingat kamu yang selau bilang ke kami berdua masalah itu tidak selamanya diselesaikan dengan sendiri ada kalanya kita juga membutuhkan bantuan orang lain, dan disinilah fungsi kami sekarang sebagai seorang sahabat. “
Cha-cha : “ OK lah kawan aku memang selalu berkata demikian dan aku tahu itu, tapi percaya sama aku, aku tidak apa-apa aku hanya lagi senang mencoba keadaan yang seperti sekarang ini, yang tidak terlalu penuh dengan keramaian.
Mitha : “ Tapi kami itu sangat tahu kamu, cha…kamu tidak biasanya suka dengan kesendirian jikalau kamu memang tidak lagi sedih dan ada banyak masalah atau apalah. “
Cha-cha : “ Aku memang tidak memungkiri akan hal itu, tapi aku juga sekarang begini karena aku lagi mencari sebuah inspirasi untuk menyelesaiakan tugas-tugas kita…yang membutuhkan banyak inspirasi yang bagus dan menarik serta tidak lupa dilengkapi dengan kosentrasi yang serius, mengerti....”
Sisil : “ Terserahlah kamu mau bilang apa, soalnya apapun yang kami bilang pastinya kamu selalu berusaha untuk mengelaknya “. Ucap Sisil dengan perasaan agak jengkel .
Cha-cha : “OK, sowry, sowry, tapi maksudku tidak begitu kawan aku malahan sangat berterimakasih karena kalian semua sangat perhatian sama aku.”
Mitha : “OK lah kalau begitu, tapi kami hanya ingin Cha-cha yang dulu, yang lucu, yang konyol selalu buat orang tersenyum, tidak seperti sekarang yang selalu terlihat murung.”
Sisil : “Iya, Cha benar apa yang dikatakan Mitha, kan ada orang yang mengatakan bahwa saat kita menyukai seseorang belajarlah untuk berteman dengannya, saat kita mencintai seseorang belajarlah untuk sungguh-sungguh, saat ia menyakitimu belajarlah untuk memaafkannya, saat dia menghianatimu belajarlah untuk tidak membalasnya dan saat dia pergi belajarlah untuk merelakannya dan tersenyumlah ketika engkau melihat dia bahagia. Maka dari itu kawan sekarang kamu harus belajar untuk merelakannya dengan perlahan-lahan. OK kawan….”
Mitha : “ Iya, Cha gimana…???”
Cha-cha : “OK lah, yang jelas kalian senang. Mulai besok kalian akan melihat kembali Cha-cha yang sebenarnya.”
Mitha : “Kami pegang yach ucapanmu….!!!!!!!!”
Cha-cha : “Iya,” sahut Cha-cha kembali, dengan wajah yang berusaha untuk meyakinkan sahabat-sahabatnya, walaupun sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam ia masih sulit untuk merelakan semua yang telah terjadi saat ini, tapi Cha-cha juga ingin berusaha untuk melakukan semua saran-saran sahabatnya dan dia berharap mudah-mudahan itu yang terbaik.
Keesokan harinya di sekolah Cha-cha pun berusaha menunjukkan kepada sahabat-sahabatnya bahwa apa yang dia katakan kemarin dapat dipercaya dan dia pun berusaha membuktikannya kepada semua sahabat-sahabatnya bahwa Cha-cha yang dulu kini telah kembali. Cha-cha pun memulai kembali hari-harinya dengan kekonyolan-kekonyolannya dan kenarsisannya,melampiaskan semua ekspresinya tanpa perasaan malu walaupun Si Monyetnya ada di dekatnya. Si Monyet adalah julukan lucu-lucuan yang diberikan sahabat-sahabat Cha-cha kepada seseorang yang dulu pernah menjadi miliknya.
Cha-chapun berusaha melalui harinya dengan senyuman dan semangat walau banyak cobaan yang harus dia lalui. Mencoba merelakan setiap kepingan ukiran indah kenangan masa lalunya dan godaan dari teman-temannya yang masih selalu mengejeknya dengan Si Monyetnya, seolah membuat Cha-cha untuk masih bisa berharap. Tapi Cha-cha mencoba untuk biasa-biasa saja dalam menanngapi semua itu. Sampai suatu hari Cha-cha bertanya kepada kedua orang sahabatnya, Cha-cha mengatakan” Kenapa yach, jika aku melihat rata-rata orang yang sudah tidak bersama pasangannya, baik itu karena mereka sudah putus atau apalah, mereka semua dengan begitu saja mudah mendapat penggantinya, walaupun sebenarnya itu adalah hal yang mungkin wajarlah apalagi untuk remaja seumuran kita sekarang ini dan mereka terlihat fine-fine saja , tapi kenapa aku tidak bisa ????????” Tanya Cha-cha kepada kedua orang sahabatnya. Mitha : “sebenarnya kamu bisa, tapi kamu takut dan belum mau untuk mencobanya karena, sampai detik inipun kami juga tahu bahwa kamu masih memikirkannya, iya kan ???????”
Cha-cha : “Tapi, aku sudah pernah mencobanya kok tapi memang masih sulit rasanya,jadi aku harua bagaimana?”
Sisil : “Kalau begitu faktanya, artinya kamu memang masih sayang sama dia dan kalau begitu jalan satu-satunya kamu harus jujur sama dia, katakan yang sebenarnya sebelum terlambat jangan sampai kamu menyesal nantinya dan sepengetahuan kami sebenarnya dia juga masih mempunyai perasaan yang sama denganmu akan tetapi tidak ada yang berani untuk memulainya makadari itu lebih baik jujur.”
Cha-cha : “Apa!!!!!!! kalian yakin, mau ditaruh dimana ini muka kalau nanti dia tidak merespon pengakuanku , pastinya aku akan merasa malu lagian akukan perempuan.” Sahut Cha-cha dengan sedikit terkejut.
Mitha : “Kami yakin 100%, tidak usah pakai acara-acara malu dan gengsi segala dech, Cha…ingat sampai kapan harus begini terus menanti sesuatu yang sangan tidak jelas ujungnya bagaimana.!”
Sisil : “Betul, Cha ini jalan yang terbaik, kamu fikir saja yach ada dua kemungkina yang bisa terjadi. Kemungkinan yang pertama, jika dia meresponmu otomatis kamu senang dan kemungkinan kedua jika dia tidak meresponmu itu artinya bisa menyadarkanmu bahwa memang sudah tidak ada harapan lagi never mindkan, yang jelas kamu sudah lega karena kamu sudah mengungkapkan isi hatimu yang sebenarnya daripada tidak ada kejalasan itu bisa membuatmu terus berada dalam dunia khayal!.”
Cha-cha : “Apa tidak ada jalan yang lain lagi????”
Mitha & Sisil : “ TIDAK ADA!!!!!!!!!!!!!!!”
Cha-cha : “Hm,hm,hm,….baiklah kalau begitu aku akan mencobanya, doakan aki yach…kawan mudah-mudahan berhasil.”
Mitha : “Siiiiiiplaaaaahhhhh.”
Cha-cha : “Tapi aku tidak bisa langsung mengatakannya, baiknya lewat apa yach?”
Sisil : “Lewat surat saja OK. Tidak usah terlalu lama berfikir nanti keburu mukamu menjadi tua loch.”
Cha-cha : “BISMILLAHI RAHMANIRRAHIIIIIIIIIIIIM.”
Mitha : “FIGHTING!!!!!!!!!”.
Cha –cha pun mulai menulis surat yang akan dia krimkan dan di dalam suratnya dia mengatakan bahwa AKU MASIH SAYANG DEDE (DEDE dulunya adalah panggilan khusus untuk Si Penyemangat Cha-cha). Sesudah menulis surat itu Cha-cha pun menyelipkannya di bawah laci meja DEDE.
Tiga hari setelah Cha-cha menulis surat itu DEDE belum memberikan tanda-tanda kepada Cha-cha apakah dia meresponnya atau tidak karena, Cha-cha juga tidak tahu apakah dia sudah membacanya atau belum. Setelah beberapa hari, Cha-cha melihat belum ada tanggapan dari DEDE, akhirnya dengan berjalannya waktu Cha-cha memutuskan untuk kembali meyakinkan dirinya untuk berhenti berharap dan melupakan DEDE. Walaupun ujung-unjungnya ia sulit untuk melakukan hal itu, tapi mau diapakan lagi, hanya itu yang bisa Cha-cha lakukan dan itupun kenyataannya. Seiring berjalannya waktu Cha-cha hanya bisa berkata, “Akan tiba saatnya dimana aku harus berhenti mencintai seseorang bukan karena aku putus asa mencintainya melainkan karena aku menyadari bahwa orang yang aku cinta akan lebih bahagia bila aku melepaskannya”. Cha-cha pun berusaha menganbil sebuah pelajaran dari masalahnya itu, yaitu belajar untuk merelakan karena tidak semua yang kita harapkan sesuai dengan kenyataan dan belajar merelakan sesuatu itu adalah salah satu cara menuju kedewasaan, baik itu kedewasaan dalam berfikir maupun dalam bertindak. Dan itulah cinta, kadang sulit untuk dimengerti karena, cinta seolah-olah mempermainkan kita, cinta yang membuat kita melakukan sesuatu yang tidak biasanya tetapi cinta juga yang membuat kita bahagia, menangis dan tertawa. Tapi itulah cinta tidak ada yang salah dengan CINTA.

(Cerpen) Friendship

Sahabat itu seperti bintang di Langit. Bintang yang akan selalu bersinar meski terkadang menghilang karena tertutup awan. Bintang yang tak dapat kita miliki tapi akan tetap ada untuk kita. Bintang yang kita tahu meski mungkin dia tidak mengetahui kita.
Aku mulai mengenal sosok sahabat saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Bagiku Sahabat adalah sosok yang memiliki tempat khusus dihatiku selain keluargaku. Mereka selalu ada disaat suka dan dukaku.
Di Sekolah Menengah Pertama aku menemukan sahabat-sahabatku. Mereka adalah Afif, Gina, Icha, Firdha, Isty dan Tina.
Aku menjalani hidup bersama mereka, Mereka adalah bagian dari hidupku. Setiap hari kami melakukan berbagai aktifitas bersama, mendapat pelajaran dan pengalaman bersama, belajar mengerti satu sama lain, selalu bersama melalui suka dan duka tapi perselisihan juga tak luput dari kebersamaan kami namun kami menyadari bahwa kami saling membutuhkan.
Aku mengenal mereka sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, kami belajar disekolah yang sama sejak sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Pertama, kebersamaan itu yang membuat kami merasa saling mengenal dan saling membutuhkan. Hingga pada suatu hari saat kami duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama kami membuat sebuah komunitas yang kami beri nama SAGIFTI.
Sagifti berawal dari sebuah kelompok belajar yang kemudian berkembang menjadi sebuah identitas khusus bagi kami yang membuat kami selalu bersama, kata Sagifti berasal huruf depan nama kami semua, S dari huruf depan namaku Sary, A dari huruf depan nama Afif, G dari huruf depan nama Gina, I dari huruf depan nama Icha, F dari huruf depan nama Firdha, T dari huruf depan nama Tina dan I dari huruf depan nama Isty.
Segala yang kami alami tak selalu indah kami juga mengalami perselisihan dan perbedaan pendapat bahkan tak jarang perbedaan pendapat itu yang membuat kami tak saling bicara.
Suatu hari kami tak saling bicara entah karena alasan apa hal itu terjadi. Aku merasa Sagifti menjauhiku, Aku merasa Sagifti jauh dariku, Aku merasa Sagifti tak membutuhkanku lagi. Kami sudah jarang berkumpul dan bermain bersama, kami sibuk dengan urusan kami masing-masing, hingga Aku merasa Sagifti sudah tak ada lagi.
***
“Muhammad Afifuddin” terdengar suara bapak guru yang sedang mengabsen siswa
“Hadir Pak !” jawab Afif tak semangat
“Sartini Safitri satir” lanjut bapak guru sambil mencari sosok yang ia panggil
“Hadir Pak” jawabku sambil mengacungkan tangan
Entah apa yang terjadi dengan kelasku hari ini, tak ada canda tawa yang menghiasi kelas kami, semuanya diam tanpa kata, sejak awal pelajaran pertama hingga bel istirahat berbunyi tak ada suara gemuruh yang terdengar.
“Sari !!!” terdengar suara Amma memanggilku
“Iya, kenapa ?” tanyaku heran karena ini adalah kali pertamanya ia memanggilku dengan suara keras di depan umum, padahal ia adalah tipe cewek yang sangat pendiam
“Gag apa-apa ! Cuma mau ke kantin bareng aja. Gag papa kan ?” jawabnya
“Yah jelas gag papalah, ya udah ayo cepetan ntar makanannya keburu habis !” ajakku
“Sagifti kenapa ?” tanyanya membuatku terkejut
“Hah Sagifti ? memangnya Sagifti kenapa ?” aku kembali bertanya
“Gag soalnya belakangan ini Sagifti dah gag pernah jalan bareng, dah gag pernah bikin heboh sekolah !” jelas Amma
“Ah enggak kok semuanya baik-baik aja ! mungkin belakangan ini memang jarang kumpul soalnya banyak tugas sih !” jawabku berusaha menutupi masalah yang sedang dihadapi Sagifti
“Dah gag usah ditutupin semua orang juga berpendapat gitu kok mereka sedih liat kalian gag bareng-bareng lagi” ungkap amma, kemudian menghetikan langkahku “Semua rindu liat kalian main bareng, ke kantin bareng, pulang sekolah bareng dan melakukan semuanya bereng !” lanjutnya.
Aku tak sanggup mendengar kata-kata Amma, Aku berlari meninggalkannya. “Amma memang benar, Aku juga merindukan kebersamaan Sagifti, Aku juga ingin berkumpul bersama mereka tapi aku tak tahu harus memulai semua itu dari mana !” ungkapku dalam hati.
***
“Diharapkan kepada seluruh siswa agar segera berkumpul di lapangan karena kita akan segera melaksanakan apel pagi !” terdengar suara bapak guru dari pengeras suara yang berada di setiap sudut sekolah.
Beberapa saat setelah suara bapak guru terdengar, terlihat seluruh siswa berlarian menuju lapangan sekolah. Apel pagi adalah kegiatan yang menjadi rutilitas khusus sekolah kami, diapel pagi bapak guru selalu memberikan arahan kepada seluruh siswa mengenai berbagai hal mulai dari seragam, kebersihan, kerapian, pembelajaran dalam kelas hingga konflik-konflik yang terjadi di sekolah. Hari ini apel pagi berjalan cukup singkat entah karena alasan apa bapak guru hanya membahas beberapa hal tanpa memperpanjang masalah.
“Sari !” teriak bapak guru memanggil namaku
“Ada apa pak ?” tanyaku khawatir, takut Aku telah melakukan sebuah kesalahan yang membuat bapak guru memanggilku.
“Tolong keperpustakaan sekarang, Bapak mau bicara !” ucap bapak guru membuatku semakin panik.
“Baik Pak !” jawabku singkat sambil mengikuti bapak berjalan menuju perpustakaan.
Setelah tiba di sana alangkah terkejutnya diriku saat melihat Afif, Gina, Icha, Tina, Firdha dan Isty telah tiba disana. Ternyata ini semua rencana bapak guru, Aku tak pernah menyangka Bapak akan berbuat seperti itu hanya untuk kami, hanya untuk Sagifti. Pertemuan itu adalah pertemuan kami semua setelah hampir sebulan tak pernah berkumpul kembali, awalnya aku takut untuk bertemu dengan mereka, aku takut mendapat perlakuan yang sama seperti biasanya oleh mereka, aku takut mengetahui kenyataan, tapi bapak membuatku yakin dan berani untuk bertemu dengan mereka.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian ?” Tanya bapak guru memulai pembicaraan “Kenapa kalian tak saling bicara ? kalian seperti orang yang tak pernah saling mengenal !” lanjutnya
“Kami tak tahu Pak, kami juga merasa tidak nyaman dengan semua ini !”
“Lalu kenapa kalian tak pernak berkumpul lagi ? kenapa kalian tak pernah bersama ? kami semua merindukan kebersamaan kalian, kami ingin melihat kelucuan dan kekompakan kalian lagi bukan melihat kalian tak saling bicara.”
Kami hanya diam
“Kalian tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah kalian jika kalian hanya saling diam, jika kalian tak berusaha mencari penyebab dan solusi masalah kalian. Belajarlah untuk dewasa !” nasihat bapak
“Sari merasa mereka menjauhi Sari, Sari merasa mereka menjaga jarak dengan Sari , mereka tak peduli dengan Sari lagi !” ungkapku berusaha jujur kepada semuanya.
“Kami juga merasa Sari menjauhi kami, kami juaga merasa Sari tak peduli pada kami, kami kehilangan Sari yang dulu, Sari sibuk dengan urusan Sari, setiap kami mengajak Sari berkumpul Sari selalu sibuk dengan urusan Sari. Itu yang bikin kita semua gag mau ganggu Sari !” Afif mulai angkat bicara
“Sari minta maaf kalau Sari sibuk dengan urusan Sari tapi bukan berarti disaat Sari jauh kalian juga harus menjauh, justru disaat seperti itu Sari membutuhkan kalian, Sari tidak mungkin menyelesaikan semua urusan Sari tanpa kalian!” jelasku berusaha membela driku.
“Sari juga harus bisa mengerti kami, tidak selamanya kami harus selalu mengerti Sari !”
“Maaf..” hanya kata itu yang dapat ku ucapkan setelah mendengar perkataan Afif.
Aku sadar ternyata Aku salah, Aku mengambil kesimpulan dari satu sisi tanpa melihat sisi yang lain, Aku terlalu egois untuk mengakui bahwa Aku yang salah.
“Sekarang semuanya sudah jelas. Sebenarnya kalian saling membutuhkan tapi terlalu egois tuk meminta perhatian satu sama lain, kalian lebih memilih diam dibanding mengungkapkan apa yang kalian rasakan !” ucap bapak guru “Sekarang saya ingin melihat kalian bersama lagi, berkumpul lagi dan tak ada yang memendam masalah, kalian harus belajar jujur dan terbuka satu sama lain !”
Akhirnya kami berbaikan, segala kesalah pahaman yang terjadi selama ini akhirnya selesai dan akhirnya Aku tahu bahwa semua itu berawal dari keegoisanku, dari diriku yang selalu menilai dan menarik kesimpulan hanya dari satu sisi tanpa berusaha mencari kejelasan dari semua itu. Dari masalah itu Aku belajar bahwa hidup ini akan lebih berarti saat kita bisa mengerti orang lain bukan selalu ingin dimengerti.
Kini Sagifti kembali menjadi Sagifti yang dulu, Sagifti yang penuh canda tawa dan kebersamaan.