(Cerpen) Tak Ada Yang Salah Dengan CINTA

Cha-cha seorang gadis remaja yang baru berumur 16 tahun dan sekarang duduk di bangku SMA kelas 3 terbangun dari tidurnya, dan melihat mentari pagi yang sedang tersenyum kepadanya. Dan seketika itupun dia ,menyadari dan merasakan hembusan angin pagi yang begitu sejuk di sudut jendela kamarnya yang tiba-tiba saja membawanya dalam sebuah keresahan yang membawanya untuk mencoba melewati setitik celah mencoba menelaah segala resah yang mulai gerah pada semua yang lagi tak terlihat indah yang membuatnya kembali berfikir bahwa haruskah dia menyerah pada keadaan sekarang ini, keadaan yang membuatnya tersiksa untuk tak lagi mencoba mengenang dan merelakan sesuatu yang pada kenyataannya telah pergi dan bukan untuk dimiliki lagi. Itulah gambaran dirinya saat ini, gambaran seseorang yang masih terjebak dalam kenangan masa lalu, gambaran seseorang yang kini baru menyadari perjalanan manusia yang begitu panjang yang membawanya kepada sebuah pertemuan dan perpisahan. Dimana hari yang lalu ia bertemu, dapat menikmati canda tawa, tangisan dan kebersamaan namun kenyataan hari ini yang seiring dengan berjalannya waktu hanya ada seseorang datang dan pergi. Pergi yang tidak diketahui pergi untuk kembali atau pergi untuk selamanya.
Itulah sekarang beban di hidup Cha-Cha, ia terus menanti sesuatu yang menjadi miliknya dulu kini dapat kembali, akan tetapi rasanya itu sesuatu yang mustahil. Cha-cha sebenarnya tidak sanggup menanggung beban pikirannya itu sendiri, makadari itu Cha-cha biasanya hanya melampiaskan kesedihannya itu dalam sebuah buku, buku usang yang telah tua dan berwarna biru.
Suatu hari ketika cha-cha sedang asyik-asyiknya duduk sendiri di belakang halaman sekolah tiba-tiba Sisil dan Mitha sahabatnya datang menghampirinya, dan lagi-lagi mereka mendapati sahabatnya dengan wajah yang murung sambil menulis di buku usangnya itu dan mendengar musik kesayangannya ‘’MASIH CINTA’’ by KOTAK.
Sisil pun berkata ‘’ Cha…kamu kok murung gitu sich, kamu masih ingat dia? ”, ‘’Iya,cha…benar apa yang dikatakan Sisil itu ?, sahut Mitha pula.’’ Tidak kok, aku hanya teringat kakakku yang sekarang lagi menuntut ilmu di Mesir, sudah lama kami tidak berjumpa, aku kangen banget ma dia’’ucap cha-cha mencoba menyembunyikan kesedihan dan kemurungannya. Mitha : ‘’ Cha..sampai kapan kamu mau membohongi dirimu sendiri, sampai kapan kamu mau menyembunyikan kesedihamu dari kami ??????”.
Sisil : ‘’ Cha..kami tahu perasaanmu sekarang kamu pasti sangat terbebani dengan perasaan yang tak bisa melupakan dia, laki-laki yang dulu selalu mewarnai hidupmu, laki-laki yang dulu membuat kau tertawa dan menangis , tapi itukan sudah menjadi keputusanmu dulu untuk melepaskannya.”
Cha-cha : “ Kalian ini semua kenapa sich, aku kan sudah berulang kali bilang aku tidak kenapa-kenapa memang sampai sekarang aku belum bisa melupakan dia tapi bukan berarti setiap kalian mendapati aku seprti ini kalian selalu berkesimpukan aku seolah-olah bersedih karena dia, dia dan dia.”
Mitha : “ Bukan itu maksud kami cha…kami cuman merasa tidak enak setiap kami sedang asyik-asyiknya bercanda tawa sementara kami melihatmu murung, kami merasa tidak berguna sebagai seorang sahabat.’’
Sisil : “ Kenapa sich, kamu tidak mau curhat dengan kami berdua siapa tahu kami bisa memberimu solusi, paling tidak bisa mengurangi bebanmu, ingat kamu yang selau bilang ke kami berdua masalah itu tidak selamanya diselesaikan dengan sendiri ada kalanya kita juga membutuhkan bantuan orang lain, dan disinilah fungsi kami sekarang sebagai seorang sahabat. “
Cha-cha : “ OK lah kawan aku memang selalu berkata demikian dan aku tahu itu, tapi percaya sama aku, aku tidak apa-apa aku hanya lagi senang mencoba keadaan yang seperti sekarang ini, yang tidak terlalu penuh dengan keramaian.
Mitha : “ Tapi kami itu sangat tahu kamu, cha…kamu tidak biasanya suka dengan kesendirian jikalau kamu memang tidak lagi sedih dan ada banyak masalah atau apalah. “
Cha-cha : “ Aku memang tidak memungkiri akan hal itu, tapi aku juga sekarang begini karena aku lagi mencari sebuah inspirasi untuk menyelesaiakan tugas-tugas kita…yang membutuhkan banyak inspirasi yang bagus dan menarik serta tidak lupa dilengkapi dengan kosentrasi yang serius, mengerti....”
Sisil : “ Terserahlah kamu mau bilang apa, soalnya apapun yang kami bilang pastinya kamu selalu berusaha untuk mengelaknya “. Ucap Sisil dengan perasaan agak jengkel .
Cha-cha : “OK, sowry, sowry, tapi maksudku tidak begitu kawan aku malahan sangat berterimakasih karena kalian semua sangat perhatian sama aku.”
Mitha : “OK lah kalau begitu, tapi kami hanya ingin Cha-cha yang dulu, yang lucu, yang konyol selalu buat orang tersenyum, tidak seperti sekarang yang selalu terlihat murung.”
Sisil : “Iya, Cha benar apa yang dikatakan Mitha, kan ada orang yang mengatakan bahwa saat kita menyukai seseorang belajarlah untuk berteman dengannya, saat kita mencintai seseorang belajarlah untuk sungguh-sungguh, saat ia menyakitimu belajarlah untuk memaafkannya, saat dia menghianatimu belajarlah untuk tidak membalasnya dan saat dia pergi belajarlah untuk merelakannya dan tersenyumlah ketika engkau melihat dia bahagia. Maka dari itu kawan sekarang kamu harus belajar untuk merelakannya dengan perlahan-lahan. OK kawan….”
Mitha : “ Iya, Cha gimana…???”
Cha-cha : “OK lah, yang jelas kalian senang. Mulai besok kalian akan melihat kembali Cha-cha yang sebenarnya.”
Mitha : “Kami pegang yach ucapanmu….!!!!!!!!”
Cha-cha : “Iya,” sahut Cha-cha kembali, dengan wajah yang berusaha untuk meyakinkan sahabat-sahabatnya, walaupun sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam ia masih sulit untuk merelakan semua yang telah terjadi saat ini, tapi Cha-cha juga ingin berusaha untuk melakukan semua saran-saran sahabatnya dan dia berharap mudah-mudahan itu yang terbaik.
Keesokan harinya di sekolah Cha-cha pun berusaha menunjukkan kepada sahabat-sahabatnya bahwa apa yang dia katakan kemarin dapat dipercaya dan dia pun berusaha membuktikannya kepada semua sahabat-sahabatnya bahwa Cha-cha yang dulu kini telah kembali. Cha-cha pun memulai kembali hari-harinya dengan kekonyolan-kekonyolannya dan kenarsisannya,melampiaskan semua ekspresinya tanpa perasaan malu walaupun Si Monyetnya ada di dekatnya. Si Monyet adalah julukan lucu-lucuan yang diberikan sahabat-sahabat Cha-cha kepada seseorang yang dulu pernah menjadi miliknya.
Cha-chapun berusaha melalui harinya dengan senyuman dan semangat walau banyak cobaan yang harus dia lalui. Mencoba merelakan setiap kepingan ukiran indah kenangan masa lalunya dan godaan dari teman-temannya yang masih selalu mengejeknya dengan Si Monyetnya, seolah membuat Cha-cha untuk masih bisa berharap. Tapi Cha-cha mencoba untuk biasa-biasa saja dalam menanngapi semua itu. Sampai suatu hari Cha-cha bertanya kepada kedua orang sahabatnya, Cha-cha mengatakan” Kenapa yach, jika aku melihat rata-rata orang yang sudah tidak bersama pasangannya, baik itu karena mereka sudah putus atau apalah, mereka semua dengan begitu saja mudah mendapat penggantinya, walaupun sebenarnya itu adalah hal yang mungkin wajarlah apalagi untuk remaja seumuran kita sekarang ini dan mereka terlihat fine-fine saja , tapi kenapa aku tidak bisa ????????” Tanya Cha-cha kepada kedua orang sahabatnya. Mitha : “sebenarnya kamu bisa, tapi kamu takut dan belum mau untuk mencobanya karena, sampai detik inipun kami juga tahu bahwa kamu masih memikirkannya, iya kan ???????”
Cha-cha : “Tapi, aku sudah pernah mencobanya kok tapi memang masih sulit rasanya,jadi aku harua bagaimana?”
Sisil : “Kalau begitu faktanya, artinya kamu memang masih sayang sama dia dan kalau begitu jalan satu-satunya kamu harus jujur sama dia, katakan yang sebenarnya sebelum terlambat jangan sampai kamu menyesal nantinya dan sepengetahuan kami sebenarnya dia juga masih mempunyai perasaan yang sama denganmu akan tetapi tidak ada yang berani untuk memulainya makadari itu lebih baik jujur.”
Cha-cha : “Apa!!!!!!! kalian yakin, mau ditaruh dimana ini muka kalau nanti dia tidak merespon pengakuanku , pastinya aku akan merasa malu lagian akukan perempuan.” Sahut Cha-cha dengan sedikit terkejut.
Mitha : “Kami yakin 100%, tidak usah pakai acara-acara malu dan gengsi segala dech, Cha…ingat sampai kapan harus begini terus menanti sesuatu yang sangan tidak jelas ujungnya bagaimana.!”
Sisil : “Betul, Cha ini jalan yang terbaik, kamu fikir saja yach ada dua kemungkina yang bisa terjadi. Kemungkinan yang pertama, jika dia meresponmu otomatis kamu senang dan kemungkinan kedua jika dia tidak meresponmu itu artinya bisa menyadarkanmu bahwa memang sudah tidak ada harapan lagi never mindkan, yang jelas kamu sudah lega karena kamu sudah mengungkapkan isi hatimu yang sebenarnya daripada tidak ada kejalasan itu bisa membuatmu terus berada dalam dunia khayal!.”
Cha-cha : “Apa tidak ada jalan yang lain lagi????”
Mitha & Sisil : “ TIDAK ADA!!!!!!!!!!!!!!!”
Cha-cha : “Hm,hm,hm,….baiklah kalau begitu aku akan mencobanya, doakan aki yach…kawan mudah-mudahan berhasil.”
Mitha : “Siiiiiiplaaaaahhhhh.”
Cha-cha : “Tapi aku tidak bisa langsung mengatakannya, baiknya lewat apa yach?”
Sisil : “Lewat surat saja OK. Tidak usah terlalu lama berfikir nanti keburu mukamu menjadi tua loch.”
Cha-cha : “BISMILLAHI RAHMANIRRAHIIIIIIIIIIIIM.”
Mitha : “FIGHTING!!!!!!!!!”.
Cha –cha pun mulai menulis surat yang akan dia krimkan dan di dalam suratnya dia mengatakan bahwa AKU MASIH SAYANG DEDE (DEDE dulunya adalah panggilan khusus untuk Si Penyemangat Cha-cha). Sesudah menulis surat itu Cha-cha pun menyelipkannya di bawah laci meja DEDE.
Tiga hari setelah Cha-cha menulis surat itu DEDE belum memberikan tanda-tanda kepada Cha-cha apakah dia meresponnya atau tidak karena, Cha-cha juga tidak tahu apakah dia sudah membacanya atau belum. Setelah beberapa hari, Cha-cha melihat belum ada tanggapan dari DEDE, akhirnya dengan berjalannya waktu Cha-cha memutuskan untuk kembali meyakinkan dirinya untuk berhenti berharap dan melupakan DEDE. Walaupun ujung-unjungnya ia sulit untuk melakukan hal itu, tapi mau diapakan lagi, hanya itu yang bisa Cha-cha lakukan dan itupun kenyataannya. Seiring berjalannya waktu Cha-cha hanya bisa berkata, “Akan tiba saatnya dimana aku harus berhenti mencintai seseorang bukan karena aku putus asa mencintainya melainkan karena aku menyadari bahwa orang yang aku cinta akan lebih bahagia bila aku melepaskannya”. Cha-cha pun berusaha menganbil sebuah pelajaran dari masalahnya itu, yaitu belajar untuk merelakan karena tidak semua yang kita harapkan sesuai dengan kenyataan dan belajar merelakan sesuatu itu adalah salah satu cara menuju kedewasaan, baik itu kedewasaan dalam berfikir maupun dalam bertindak. Dan itulah cinta, kadang sulit untuk dimengerti karena, cinta seolah-olah mempermainkan kita, cinta yang membuat kita melakukan sesuatu yang tidak biasanya tetapi cinta juga yang membuat kita bahagia, menangis dan tertawa. Tapi itulah cinta tidak ada yang salah dengan CINTA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika ada pertanyaan atau sanggahan, teman-teman bisa mengisi kotak komentar ini. Mari budayakan berkomentar. Selain baik untuk blog sobat, baik juga untuk kesehatan kita :D